Manifesto Puisi Dalam Majalah

Untitled-1Untitled-2

Untitled-3Untitled-4

1433180_b

1445443_b

Advertisements

Seperti Sediakala

Seperti sediakala,
rindu pun berdiri di malam itu,
dengan sebayang kerling teduh matamu,
dan sekelebat lengkung manis senyummu.

Semoga saja, malam ini tiada lagi anyir sunyi,
yang selalu tercium pada denyut rindu yang nyeri.

Seperti sediakala,
aku pun tak pernah menyerah;
pada kebisuan, keheningan, kesunyian, kesepian, apalagi kerinduan.

Ya, seperti sediakala, kau pun tiada kabar dan salam dari kejauhan.

Pulanglah, agar segalanya seperti sediakala dengan cinta, bukan dengan duka.

Kembali Aku Mengenangmu

Di awal Oktober, sebuah kabar datang lagi
tentang kita yang terlampau nyeri dalam sunyi

Namun, kita bukan lagi kanak-kanak;
kesepian cepat hilang dengan bermain layang atau menerbangkan kunang

***

Di awal Oktober, kembali aku mengenangmu
sekali waktu, kubisikkan namamu pada telinga malam

ada yang terus menjauh, ada yang menutup semua jendela dan pintu
ketika kesepian menggaungkan namamu, tatkala rindu mengetuk hatimu

***

Di awal Oktober, aku terdiam di tepian sajak luka
keheningan terus berdenting, tanpa pernah kutahu iramanya

seperti dawai-dawai biola yang berulangkali disayat dengan lambaian perpisahan
lesat, merambat ke ceruk kalbu; serupa kau yang pernah tergesa mengecupku

***

Dan di awal Oktober,
aku melihat kesunyianku masih menyimpan cintanya yang tak pernah selesai
dalam perjalanan hidupnya yang belum usai

Belitung, 1 Oktober 2014
Masih untukmu, #F

Pintu Senja

Katamu; bila kaurindukan aku, ketuklah pintu senja. Di sana, kauakan menemukanku.

Kulihat kau; duduk bertopang dagu, kesunyianmu bersungkawa, tangismu mengecup bunga kamboja.

Dari bibirmu yang dayu, aku mendengar suara; duduklah di sampingku, kita sedang diintai rindu.

Senandika Cinta Jarak Jauh

Adalah kita; yang saling berbegas sembunyi di sebalik rindu
tatkala angin mendesau
meniupkan suara-suara kesunyian yang semakin parau
tak perlu kita menyeka airmata, biarlah bulirnya mengalir pada semua yang belum mampu kita jangkau

…dan dalam hening yang bergelimang
Segala kebaikan doa kembali kumandang;
semoga jarak dan waktu kita tiada kian merentang

Belitung, 11 September 2014

Kanak-kanak Rindu

Malam kian menua, kanak-kanak rindu datang menyeret kesepian
Kepada Tuhan, mereka memohon cinta dan kebahagiaan

Sebab di sebalik bulan yang penuh, rindu mereka bergemuruh
O, malam, biarkan mereka bebas mencumbumu; tanpa lenguh, tanpa peluh
Meski waktu terasa lambat, serupa maut yang sedang mencekat
Lihatlah wajah mereka, ada setumpuk airmata yang tak sempat Tuhan catat

Kepada Tuhan; ampunilah kesunyian mereka
jangan biarkan mereka mendekapku ketika pejam tiba
Sebab mereka hanya kanak-kanak rindu
yang tak tahu harus ke mana mereka mengadu

Belitung, 8 September 2014
Ketika malam ditikam rindu paling dendam

Ketika Senja Terluka

Senja

Kau selalu bercerita;
tentang senja dan segala keremangannya
tentang bahagia dan duka;
tentang suatu yang dinamakan cinta

…sedang dirimu serupa sumbu
detik demi detik lesap terbakar waktu
meski telah beribu kali kautebas sepi
namun takpernah mati

diam-diam kulayangkan doa
untukmu, tentang hujan yang tak reda di mata
tentang kesunyianmu yang kian renta dan menua
hingga tawa dan luka tiada beda

Untukmu; merebahlah pada dadaku yang debar
pada nadiku yang getar
biarkan senja tetap merona bersama kepak camar
hingga empas dukamu yang memar

Belitung, 2 September 2014

Sebuah Nukilan di Awal September

Tak ada lagi puisi di awal bulan ini
sebab, kata-kata telah pergi pada pagi buta tadi
langkahnya tak berbunyi, namun meninggalkan bekas di hati
barangkali, kata-kata sedang lupa diri
bahwa di hati, selalu ada yang tidak berubah sebelum semuanya pergi

September telah dimulai
tapi, kata-kata telah abai
bahwa bibirnya adalah sepenggal puisi yang belum selesai
serupa aku; menitipkan sepi pada cinta yang belum usai

inikali, September begitu kejam
aku berdiri di sebalik punggung malam
sambil menerka-nerka; adakah yang lebih kelam selain masasilam
ternyata, luka ini belum meredam, meski berkali-kali telah dipendam

September, biarlah menjadi hitungan masa
sedang aku, hanyalah perindu yang tak kenal lelah juga binasa
sebab, telah kutempatkan luka pada ceruk semesta
di sana hanya ada tulus doa, tiada bulir airmata

Kepada Septemberku, kelak kau akan mengerti, bahwa kehilangan adalah sesuatu yang tak bisa dibagi, meski perpisahan terasa seperti kematian berkali-kali

Belitung, 1 September 2014 / 00:00
September, bulan ketika airmata jatuh pada sebuah luka

Doa Sepertiga Malam Kita

Biarkan iblis terus menyulam benang-benang dosa di hati kita. Sebab kita, hanyalah pendosa yang hanya mengingat Tuhan bila didera derita.

Sampai kapankah kita semua menjadi pendosa, atau masih pantaskah kita berada pada barisan kesucian jiwa? Jika satu kesalahan saja tak mampu kita pahami, atau mungkin sengaja tak mau kita pahami.

Lewat kata-kata, kita selalu mencari arti kebenaran jiwa, meski napas tersengal di antara raga penuh dosa.

Pada rapal doa sepertiga malam kita, ada yang menetes—jatuh pada bentangan sajadah kita, biarlah ia bermetamorfosa menjadi harumnya jiwa di antara warna-warni kelamnya kehidupan dunia.

Pada akhirnya, kita hanya mampu memohon doa untuk semua manusia yang mencintai hambaNya karena Allah Semata.

Jakarta, 12 Agustus 2014 / 2:12

Sujudku di antara bentangan sajadah tua.

Puisiku Tiada Pernah Lelah

Di mana lagi aku akan menyembunyikan airmata selain di pundak puisi?

Lalu puisi, memelukku, membelai rambutku,

membiarkan derai tangisku mengalir di sekujur punggungnya,

sambil sesekali mengusap sudut mataku yang basah.

Puisiku tabah,

puisiku tiada pernah lelah.

Sayangnya, puisiku bukan dirimu yang maha entah.

Jakarta, 15 Juli 2014 | 15:21

Pada suatu petang yang entah